Tuli vs Tunarungu

Penulis: Phieter Angdika | Editor: Beke Helena Huar Noning

Banyak orang mengatakan bahwa kata “Tunarungu” lebih sopan dan enak didengar daripada kata “Tuli”, tetapi komunitas Tuli mengganggap kata “Tunarungu” sebagai tidak sopan dan lebih kasar. Kenapa komunitas Tuli nyaman disebut “Tuli” daripada “Tunarungu”? Mari kita mempelajari makna kata tersebut.

Tunarungu

            Kementerian dan kebudayaan Republik Indonesia menerbitkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi V, menggantikan KBBI IV yang telah berusia delapana tahun. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tunarungu artinya rusak pendengaran. Pandangan komunitas Tuli dengan kata tersebut yang berasal dari kata medis, terkesan kasihan, dan dianggap tidak bisa mandiri.. Mereka tegas mengatakan bahwa Tunarungu itu lebih kasar karena ada makna “rusak” itu berarti persamaan dengan barang bukan manusia.

            Pada tahun 1960, mereka sudah biasa menyebutkan “Tuli” dan menunjukkan kemampuan mereka bahwa bisa melakukan selayak orang biasa. Kemudian tahun 1994, zaman pemerintahan presiden Soeharto telah mengubahkan kata “Tuli” ke “Tunarungu” karena mengganggap kata itu lebih kasar. Meskipun, mereka tetap memakai kata tersebut sampai sekarang. Komunitas Tuli masih aktif bersosialisasi kepada masyarakat tentang perbedaan diantara Tuli dan Tunarungu.

Tuli

            Pandangan orang non Tuli menganggap kata “Tuli” lebih kasar dan tidak formal hingga meminta komunitas Tuli memakai kata “Tunarungu”, walaupun komunitas Tuli menolak dan tetap menjaga keaslian identitasnya. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sudah memuat “Tuli” dengan huruf kapital (T) sekaligus pada sekarang, coba anda mengecek kamus daring. Tuli merupakan prespektif sosial-budaya, Tuli bukan merupakan kecacatan, bukan pula difabel atau disabilitas fisik, melainkan sebuah kelompok minoritas linguistic, pengguna bahasa isyarat.

 Tuli adalah pernyataan kultural sebagai identitas budaya Tuli. Dikatakan karena budaya Tuli memiliki bahasa, sejarah, system nilai, tata perilaku, system kepercayaan, tradisi, system kemasyarakatan, perjuangan dan kesenian. Dikatakan demikan karena budaya Tuli memiliki bahasa, sejarah, system nilai, tata perilaku. Mereka yang hidup sendiri diantara orang-orang dengar, ada juga yang hidup berkelompok. Mereka pun mengerti norma perilaku bahwa Tuli memiliki kesetaraan martabat, kehormatan, dan etiket.

Apakah kita sudah paham perbedaan Tunarungu dan Tuli? Misalnya, ada orang bermata sipit dan berkulit putih itu keturunan Tionghoa atau tidak? Itu belum tentu orang tionghoa dan bisa saja orang jawa. Intinya, kita harus berhati-hati dengan meyebutkan kata atau melabelkan terhadap masyarakat di sekitar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *